manhajsalaf

Dakwah Terang-Terangan dan Permusuhan Quraisy

Setelah tiga tahun berdakwah secara rahasia, iman para sahabat telah berakar kuat. Hati mereka dipenuhi tauhid, dan kejujuran Rasulullah ﷺ telah menghapus segala keraguan. Saat itulah datang perintah baru dari Allah ﷻ:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”
(QS. Asy-Syu‘ara: 214)

Ayat ini menjadi titik perubahan besar dalam dakwah Rasulullah ﷺ. Seruan yang sebelumnya hanya disampaikan secara sembunyi-sembunyi, kini harus diumumkan kepada masyarakat luas — termasuk kepada keluarga dan kaum Quraisy yang paling keras menolak kebenaran.


🏔️ Seruan di Bukit Shafa

Rasulullah ﷺ menaiki Bukit Shafa, salah satu tempat tertinggi di sekitar Ka‘bah. Beliau memanggil dengan suara lantang:

Wahai Bani Fihr! Wahai Bani ‘Adi!

Itulah cara masyarakat Arab dahulu memanggil semua kabilah Quraisy. Saat orang-orang berdatangan, beliau bersabda:

“Bagaimana pendapat kalian jika aku kabarkan bahwa di balik lembah ini ada pasukan yang siap menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?”

Mereka menjawab,

“Tentu, kami tidak pernah mendapati engkau berdusta, wahai Muhammad.”

Beliau pun berkata:

“Sesungguhnya aku memperingatkan kalian akan azab yang berat. Wahai kaumku! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Aku tidak kuasa sedikit pun menolak azab Allah bagi kalian, kecuali bahwa aku adalah pemberi peringatan yang jelas.”

Namun, Abu Lahab, paman beliau sendiri, justru menjawab dengan kemarahan:

“Celakalah engkau sepanjang hari ini, apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?”

Maka turunlah firman Allah:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ۝ مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.
Tidaklah berguna baginya harta bendanya dan apa yang diusahakannya.”

(QS. Al-Lahab: 1–2)


🕋 Seruan Umum kepada Seluruh Makkah

Setelah itu, Rasulullah ﷺ mulai berdakwah secara terbuka kepada masyarakat Quraisy dan seluruh penduduk Makkah.
Beliau berdiri di hadapan orang-orang di sekitar Ka‘bah, menyeru mereka agar menyembah Allah semata dan meninggalkan berhala.

“Wahai manusia, katakanlah Lā ilāha illallāh, niscaya kalian akan beruntung.”

Kalimat sederhana itu mengguncang tatanan masyarakat Makkah.
Bagi mereka, berhala adalah simbol kebanggaan, perdagangan, dan tradisi nenek moyang. Maka sejak saat itu, permusuhan terhadap beliau pun dimulai.


🔥 Permusuhan dan Ejekan dari Kaum Quraisy

Kaum Quraisy menolak dengan keras. Mereka mengejek Rasulullah ﷺ sebagai penyair, tukang sihir, bahkan orang gila.
Namun Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:

مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ
“Demi nikmat Tuhanmu, engkau (Muhammad) bukanlah orang gila.”
(QS. Al-Qalam: 2)

Mereka berusaha menghentikan dakwah dengan berbagai cara:

  • Mengejek dan mengolok-olok Rasulullah ﷺ di hadapan orang banyak.
  • Menuduh Al-Qur’an sihir yang memecah belah keluarga.
  • Mengancam dan menekan orang-orang yang mulai masuk Islam.

Namun Rasulullah ﷺ tetap tegar. Setiap kali menghadapi hinaan, beliau hanya membaca firman Allah:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
“Maka sampaikanlah secara terang-terangan apa yang diperintahkan kepadamu, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”
(QS. Al-Hijr: 94)


💔 Cobaan Terhadap Para Sahabat

Ketika jumlah kaum muslimin semakin bertambah, Quraisy mulai menyiksa sahabat-sahabat yang lemah.
Mereka ingin menghentikan arus keimanan yang semakin meluas.

  • Bilal bin Rabah رضي الله عنه diseret ke padang pasir yang panas, dadanya ditindih batu besar. Namun yang keluar dari lisannya hanyalah, “Ahad… Ahad (Allah Yang Esa).”
  • Keluarga Yasir disiksa hingga syahid. Rasulullah ﷺ lewat dan berkata kepada mereka: “Ṣabran yā Āla Yasir, fa inna maw‘idakumul jannah — Bersabarlah wahai keluarga Yasir, tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah surga.”

Siksaan ini tidak menghentikan mereka, bahkan menambah kekuatan iman.
Mereka mengetahui bahwa ridha Allah lebih berharga daripada keselamatan dunia.


🕊️ Perlindungan dari Abu Thalib dan Sikap Kaum Quraisy

Kaum Quraisy melihat bahwa dakwah tidak bisa dihentikan selama Rasulullah ﷺ masih dilindungi oleh pamannya, Abu Thalib.
Maka mereka mendatangi Abu Thalib, meminta agar ia menghentikan keponakannya. Namun Abu Thalib menolak dengan lembut, ia tetap melindungi Muhammad ﷺ walaupun belum memeluk Islam.

Melihat tekanan yang terus meningkat, Rasulullah ﷺ berkata kepada pamannya dengan penuh ketegasan:

“Wahai pamanku, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.”

Mendengar itu, Abu Thalib meneteskan air mata dan berkata,

“Pergilah, wahai anak saudaraku, dan katakanlah sesukamu. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapa pun.”


🌿 Pelajaran dari Fase Dakwah Terbuka

  1. Dakwah memerlukan keberanian dan keikhlasan. Rasulullah ﷺ berdiri sendirian menghadapi seluruh Quraisy.
  2. Penentangan adalah sunnatullah bagi setiap kebenaran.
  3. Sabar dan keteguhan adalah tanda keimanan sejati.
  4. Perlindungan keluarga dan dukungan sahabat sangat berharga dalam perjuangan dakwah.

“Maka bersabarlah sebagaimana para rasul ulul azmi telah bersabar, dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan bagi mereka.”
(QS. Al-Ahqaf: 35)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *