🌙 Latar Belakang: Pengkhianatan Quraisy
Dua tahun setelah ditandatanganinya Perjanjian Hudaibiyah, kaum Quraisy melakukan pelanggaran besar terhadap perjanjian tersebut.
Dalam isi perjanjian, kabilah-kabilah Arab bebas memilih berpihak pada kaum Muslimin atau Quraisy.
- Kabilah Bani Khuza‘ah memilih bersekutu dengan Rasulullah ﷺ,
- sedangkan Bani Bakr berpihak pada Quraisy.
Suatu malam, Bani Bakr menyerang Bani Khuza‘ah di dekat Makkah — dengan bantuan senjata dan pasukan dari Quraisy.
Bani Khuza‘ah pun melarikan diri ke Haram Makkah dan berteriak memohon perlindungan Allah.
Pemimpin mereka, ‘Amr bin Sālim al-Khuza‘i, datang ke Madinah dan melantunkan seruan di hadapan Rasulullah ﷺ:
“Ya Rasulullah, Quraisy telah mengkhianati perjanjian,
Mereka membunuh kami di tanah suci, padahal kami dalam keamanan-Mu…”
Rasulullah ﷺ menjawab dengan penuh tekad:
“Engkau akan ditolong, wahai ‘Amr bin Sālim!”
🕋 Persiapan Rahasia Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ segera memerintahkan persiapan militer secara rahasia, agar tidak sampai terdengar ke telinga Quraisy.
Beliau ingin memasuki Makkah tanpa pertumpahan darah, demi kesucian kota itu.
Beliau berdoa:
“Ya Allah, butakan mata Quraisy agar mereka tidak mengetahui kedatanganku sampai aku tiba di tengah-tengah mereka.”
Pasukan yang beliau kumpulkan mencapai 10.000 prajurit, jumlah terbesar dalam sejarah dakwah Islam hingga saat itu.
Semua suku di Jazirah Arab yang telah masuk Islam ikut serta: Muhajirin, Anshar, dan berbagai kabilah.
🌌 Perjalanan Menuju Makkah
Rasulullah ﷺ berangkat dari Madinah pada bulan Ramadhan tahun ke-8 Hijriah.
Beliau memerintahkan para sahabat agar menyalakan banyak api unggun di perkemahan dekat Marr az-Zahrān, di utara Makkah.
Cahaya ribuan obor membuat Quraisy terkejut.
Abu Sufyan — yang saat itu masih musyrik — keluar untuk memeriksa.
Ia ditangkap oleh pasukan pengintai dan dibawa menghadap Rasulullah ﷺ.
🤝 Abu Sufyan Masuk Islam
Ketika bertemu Rasulullah ﷺ, Abu Sufyan melihat keagungan dan kelembutan beliau.
‘Abbās bin ‘Abdul Muththalib — paman Nabi ﷺ yang baru masuk Islam — menasihatinya:
“Celaka engkau, wahai Abu Sufyan! Segeralah masuk Islam sebelum terlambat.”
Akhirnya Abu Sufyan mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk Islam.
Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:
“Barang siapa masuk ke rumah Abu Sufyan, maka ia aman.
Barang siapa menutup pintu rumahnya, maka ia aman.
Barang siapa masuk ke Masjidil Haram, maka ia aman.”
🌄 Rasulullah ﷺ Memasuki Kota Makkah
Keesokan paginya, Rasulullah ﷺ memasuki Makkah dengan kepala tunduk rendah di atas pelana, sebagai tanda kerendahan hati di hadapan Allah.
Beliau tidak sombong sedikit pun atas kemenangan ini.
Beliau membagi pasukan menjadi empat kelompok agar masuk dari sisi berbeda — dengan pesan tegas:
“Jangan kalian berperang kecuali bila diserang.”
Hanya sedikit bentrokan kecil terjadi di bagian bawah kota.
Secara keseluruhan, Fathu Makkah terjadi tanpa pertumpahan darah berarti.
🕋 Penghancuran Berhala
Rasulullah ﷺ kemudian menuju Masjidil Haram.
Beliau thawaf mengelilingi Ka‘bah sambil membaca:
جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
“Telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.”
— (QS. Al-Isrā’: 81)
Di sekeliling Ka‘bah terdapat 360 berhala; beliau menghancurkan semuanya dengan tongkat busur sambil bertakbir.
Kemudian beliau masuk ke dalam Ka‘bah, bertakbir di setiap sudutnya, dan membaca doa syukur.
Setelah keluar, beliau berdiri di pintu Ka‘bah, memandang penduduk Makkah yang berkumpul di hadapannya.
🌿 Pemaafan Rasulullah ﷺ
Dengan suara lembut tapi tegas, beliau bersabda:
“Wahai kaum Quraisy, apa yang kalian sangka akan aku perbuat terhadap kalian?”
Mereka menjawab, “Engkau adalah saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”
Maka beliau ﷺ bersabda:
“Pergilah, kalian semua bebas.”
Kalimat itu menggema di lembah Makkah — sebuah amnesti total, tanpa dendam, tanpa balas.
Inilah puncak kasih sayang dan kemuliaan akhlak Rasulullah ﷺ.
🕌 Pembersihan Ka‘bah dan Dakwah di Makkah
Setelah kota aman, Rasulullah ﷺ memerintahkan Bilal bin Rabāh naik ke atas Ka‘bah dan mengumandangkan adzan — untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam di Makkah.
Suara adzan itu menembus hati orang-orang yang dahulu menyiksa kaum muslimin.
Banyak tokoh Quraisy masuk Islam pada hari itu, di antaranya:
- Abu Sufyan bin Harb
- Hindun binti ‘Utbah
- ‘Ikrimah bin Abī Jahl
- Suhail bin ‘Amr
- dan banyak lainnya.
Rasulullah ﷺ menetapkan ‘Aṭṭāb bin Usayd sebagai gubernur Makkah dan menjadikan kota itu sebagai kota suci Islam, tempat yang dijaga hingga hari kiamat.
🌟 Makna dan Hikmah Fathu Makkah
- Kemenangan moral dan spiritual, bukan sekadar militer.
- Teladan tertinggi dalam pemaafan dan rahmat.
- Ka‘bah kembali kepada kesuciannya, hanya untuk ibadah kepada Allah semata.
- Seluruh Jazirah Arab mulai masuk Islam.
- Tercapainya janji Allah dalam Al-Qur’an:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
— (QS. An-Naṣr: 1–3)
📜 Penutup
Dengan Fathu Makkah, risalah tauhid mencapai puncaknya di tanah kelahiran Rasulullah ﷺ.
Kota yang dulu menolak beliau kini menjadi pusat Islam, dan dari sanalah sinar hidayah memancar ke seluruh penjuru dunia.