Setelah peristiwa Isra’ dan Mi‘raj, dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah tetap berlangsung dalam tekanan dan siksaan kaum Quraisy.
Namun, pertolongan Allah ﷻ mulai tampak — dari arah yang tak disangka: Yatsrib, kota yang kelak dikenal dengan nama Al-Madinah Al-Munawwarah.
🌿 Cahaya Islam di Kota Yatsrib
Di tahun ke-11 kenabian, ketika musim haji tiba, Rasulullah ﷺ mendatangi para kabilah di Mina, seperti biasa beliau menawarkan Islam kepada setiap rombongan Arab yang datang berhaji.
Di antara mereka, beliau bertemu enam orang dari suku Khazraj — dua suku besar yang tinggal di Yatsrib adalah Aus dan Khazraj, yang telah lama bermusuhan.
Rasulullah ﷺ berbicara dengan mereka dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an.
Hati mereka tersentuh, karena mereka pernah mendengar dari orang-orang Yahudi di Yatsrib tentang kedatangan seorang nabi di akhir zaman.
Mereka berkata sesama mereka:
“Inilah nabi yang dijanjikan oleh orang-orang Yahudi, jangan sampai mereka mendahului kita dalam beriman kepadanya.”
Maka keenam orang itu pun beriman kepada Rasulullah ﷺ, lalu pulang ke Yatsrib dan mulai menyebarkan Islam di kalangan kaumnya.
Itulah benih pertama Islam di Madinah.
🌾 Bai‘at Aqabah Pertama
Pada musim haji tahun berikutnya (tahun ke-12 kenabian), datang dua belas orang dari Yatsrib untuk menemui Rasulullah ﷺ di tempat bernama Aqabah — di Mina.
Mereka membaiat Rasulullah ﷺ atas dasar keimanan dan ketaatan, dalam apa yang dikenal sebagai Bai‘at Aqabah Pertama.
Isi bai‘at itu mirip dengan bai‘at wanita yang disebutkan dalam Al-Qur’an:
أَلَّا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ
“Bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak berdusta, dan tidak mendurhakaimu dalam hal yang baik.”
— (QS. Al-Mumtahanah: 12)
Rasulullah ﷺ mengutus Mus‘ab bin ‘Umair رضي الله عنه bersama mereka ke Yatsrib untuk mengajarkan Islam dan membacakan Al-Qur’an kepada penduduknya.
Mus‘ab dikenal dengan julukan “Al-Muqri’” (pembaca Al-Qur’an) karena perannya dalam menyebarkan ajaran Islam di sana.
🌙 Mus‘ab bin ‘Umair dan Perkembangan Islam di Yatsrib
Mus‘ab menetap di rumah As’ad bin Zurārah رضي الله عنه.
Bersama-sama mereka menyebarkan dakwah Islam ke setiap rumah dan majelis.
Dua tokoh besar dari suku Aus — Sa‘ad bin Mu‘adz dan Usaid bin Hudhair — awalnya menolak ajakan Mus‘ab.
Namun setelah mendengarkan bacaan Al-Qur’an darinya, keduanya masuk Islam.
Masuk Islamnya Sa‘ad bin Mu‘adz menjadikan seluruh Bani ‘Abdil Asyhal mengikuti jejaknya.
Tak lama kemudian, setiap rumah di Yatsrib memiliki muslim, dan Islam pun mengakar kuat di kota itu.
🌉 Bai‘at Aqabah Kedua: Perjanjian Perlindungan dan Jihad
Setahun kemudian, pada musim haji berikutnya (tahun ke-13 kenabian), datanglah lebih dari tujuh puluh orang dari Yatsrib — laki-laki dan dua wanita.
Mereka ingin membaiat Rasulullah ﷺ sekali lagi, kali ini bukan hanya untuk iman, tapi juga untuk melindungi beliau dan menegakkan agama Allah.
Pertemuan berlangsung diam-diam di lembah Aqabah, pada malam hari.
Rasulullah ﷺ ditemani pamannya Al-‘Abbas, yang meskipun belum masuk Islam, sangat mencintai keponakannya.
Al-‘Abbas berbicara terlebih dahulu, memastikan bahwa kaum Yatsrib benar-benar siap melindungi Nabi ﷺ dari permusuhan Quraisy.
Mereka menjawab dengan mantap:
“Kami telah mendengar. Ambillah untukmu dan untuk Rabb-mu apa yang engkau kehendaki.”
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:
“Aku berbaiat kepada kalian agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri dan keluarga kalian sendiri.”
Mereka pun menjawab serentak:
“Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, kami akan melindungimu sebagaimana kami melindungi keluarga kami. Jika kami menepatinya, maka balasan apa untuk kami, wahai Rasulullah?”
Beliau ﷺ menjawab:
“Surga.”
Maka mereka pun berkata:
“Ambillah tangan kami untuk bai‘at, wahai Rasulullah.”
Itulah Bai‘at Aqabah Kedua, bai‘at jihad dan perlindungan, yang menandai dimulainya fase baru dakwah Islam — dari fase sabar dan sembunyi di Makkah menuju fase kekuatan dan perlindungan di Madinah.
🛡️ Awal Persiapan Hijrah
Setelah perjanjian itu, Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat untuk berhijrah ke Yatsrib secara bertahap.
Satu demi satu kaum muslimin meninggalkan Makkah secara sembunyi-sembunyi, meninggalkan rumah, harta, dan keluarga demi iman.
Kaum Quraisy marah besar.
Mereka sadar, Islam kini memiliki negeri dan kekuatan.
✨ Pelajaran dari Bai‘at Aqabah
- Dakwah butuh strategi dan kesabaran.
Rasulullah ﷺ tidak terburu-buru mencari kekuasaan, tapi membangun pondasi iman terlebih dahulu. - Bai‘at adalah komitmen amal, bukan sekadar ucapan.
Para sahabat menandatangani janji dengan nyawa mereka sendiri. - Madinah menjadi pusat peradaban Islam.
Dari kota itu, Islam akan berkembang dan menerangi seluruh jazirah Arab.
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُم مِّن وَلَايَتِهِم مِّن شَيْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا
“Dan orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka kamu tidak mempunyai kewajiban perlindungan terhadap mereka sebelum mereka berhijrah.”
— (QS. Al-Anfal: 72)