manhajsalaf

Haji Wada’ dan Wafatnya Rasulullah ﷺ

🌾 Islam Menyebar ke Seluruh Jazirah Arab

Setelah Fathu Makkah, Rasulullah ﷺ mengirim utusan ke berbagai penjuru Arab untuk menegakkan Islam dan menghapus sisa-sisa kesyirikan.

Dalam waktu singkat:

  • Seluruh kabilah Arab datang berbondong-bondong ke Madinah untuk masuk Islam.
  • Tahun itu disebut dalam sejarah sebagai ‘Āmu al-Wufūd (Tahun Para Delegasi) — tahun kesembilan Hijriah.

Kaum Muslimin semakin kuat, dan syariat Islam telah lengkap diterapkan di seluruh wilayah yang berada di bawah kekuasaan Rasulullah ﷺ.


🕋 Rasulullah ﷺ Bersiap Menunaikan Haji

Setelah penaklukan Makkah, Rasulullah ﷺ mengutus Abu Bakar ash-Shiddiq memimpin jamaah haji tahun ke-9 H.
Namun beliau sendiri belum berhaji, karena ingin mengajarkan langsung tata cara haji yang sempurna.

Setahun kemudian, pada bulan Dzul-Qa‘dah tahun ke-10 Hijriah, Rasulullah ﷺ mengumumkan kepada kaum Muslimin bahwa beliau akan berhaji.

Kaum Muslimin pun berdatangan dari seluruh penjuru — dari Madinah, Najd, Yaman, dan daerah lain.
Jumlah mereka mencapai lebih dari 100.000 orang.


🌙 Perjalanan Menuju Tanah Suci

Rasulullah ﷺ berangkat dari Madinah dengan pakaian ihram, sambil bertalbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْك، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْك،
إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

“Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu. Segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu.”

Selama perjalanan, beliau ﷺ mengajarkan manasik haji kepada umat dengan sabar, dan semua jamaah menirukan setiap gerak-geriknya.


🕋 Masuk Makkah dan Wukuf di ‘Arafah

Rasulullah ﷺ tiba di Makkah pada tanggal 4 Dzulhijjah, lalu melakukan thawaf dan sa’i antara Shafa dan Marwah.

Pada tanggal 9 Dzulhijjah, beliau berangkat menuju Padang ‘Arafah — lautan manusia menyemut di hadapan beliau.

Di kaki Jabal Rahmah, beliau berkhotbah kepada seluruh jamaah dalam khutbah yang menggetarkan hati dan menjadi warisan sejarah terbesar umat Islam.


📜 Khutbah Arafah (Khutbah Haji Wada’)

Rasulullah ﷺ berdiri di atas unta, memuji Allah, lalu bersabda:

“Wahai manusia! Dengarkanlah ucapanku, karena aku tidak tahu apakah setelah tahun ini aku masih dapat bertemu dengan kalian di tempat ini.

Wahai manusia! Sesungguhnya darah dan harta kalian haram atas kalian, seperti sucinya hari ini, di bulan ini, dan di negeri ini.

Ketahuilah, segala perkara jahiliyah telah aku letakkan di bawah telapak kakiku.

Riba (bunga) jahiliyah dihapus. Riba Abbas bin Abdul Muththalib telah dihapus seluruhnya.

Takutlah kalian kepada Allah dalam urusan wanita, karena kalian mengambil mereka dengan amanah Allah.

Wahai manusia! Sesungguhnya kalian berasal dari Adam, dan Adam dari tanah.

Tidak ada keutamaan orang Arab atas non-Arab, dan tidak pula non-Arab atas Arab, kecuali dengan takwa.

Maka sampaikanlah dariku, walau satu ayat.”

Setelah khutbah itu, Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangan dan berdoa dengan penuh khusyuk.
Air mata para sahabat menetes — mereka menyadari bahwa ini mungkin pertemuan terakhir dengan beliau.


🌅 Turunnya Ayat Penyempurna Agama

Di tengah wukuf ‘Arafah, Allah ﷻ menurunkan ayat:

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atasmu, serta Aku ridai Islam sebagai agamamu.”
(QS. Al-Mā’idah: 3)

Umar bin Khattab menangis mendengar ayat itu.
Beliau berkata, “Tidak ada kesempurnaan kecuali diikuti kekurangan. Itu pertanda Rasulullah ﷺ akan segera meninggalkan kita.”


🌄 Haji Selesai, Kembali ke Madinah

Setelah menyelesaikan seluruh manasik haji, Rasulullah ﷺ kembali ke Madinah.
Beliau tinggal beberapa bulan dalam keadaan sehat, hingga akhirnya tanda-tanda perpisahan dengan dunia mulai tampak.


🌙 Tanda-Tanda Wafat Rasulullah ﷺ

Beberapa tanda itu antara lain:

  1. Beliau mulai sering menyendiri, memperbanyak istighfar dan doa.
  2. Beliau bersabda di hadapan para sahabat: “Seorang hamba diberi pilihan oleh Allah antara dunia dan apa yang di sisi-Nya, dan hamba itu memilih apa yang di sisi Allah.”
    Abu Bakar menangis, karena tahu bahwa “hamba” itu adalah Rasulullah sendiri.
  3. Beliau mengunjungi makam para syuhada Uhud dan mendoakan mereka dengan linangan air mata.

🌙 Sakit dan Wasiat Terakhir

Sakit beliau dimulai sekitar akhir bulan Shafar tahun ke-11 Hijriah.
Demamnya sangat tinggi, hingga beliau terpaksa meminta izin berpindah ke rumah ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā.

Dalam sakitnya, beliau tetap berpesan:

“Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat ibadah.
Laknat Allah atas kaum Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid.”

Beliau juga berwasiat:

“Jagalah shalat… jagalah shalat… dan perlakukanlah hamba sahaya dengan baik.”


☀️ Wafatnya Rasulullah ﷺ

Pada hari Senin, 12 Rabi‘ul Awwal tahun ke-11 Hijriah, menjelang matahari meninggi,
Rasulullah ﷺ memandang ke langit sambil berucap pelan:

“اللهم الرفيق الأعلى…”
“Ya Allah, kepada Ar-Rafīq al-A‘lā (Teman Tertinggi)…”

Lalu tangan beliau terkulai.
Rasulullah ﷺ berpulang ke rahmat Allah dalam usia 63 tahun, setelah 23 tahun menunaikan risalah kenabian.


😭 Kesedihan Umat dan Pemakaman

Kabar wafatnya Rasulullah ﷺ mengguncang Madinah.
Umar bin Khattab menolak percaya, hingga Abu Bakar keluar dan berkata tegas:

“Barang siapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat.
Dan barang siapa menyembah Allah, maka Allah hidup dan tidak akan mati.”

Lalu beliau membaca:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ ۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ
(QS. Āli ‘Imrān: 144)

Barulah Umar tersadar dan menangis.

Jenazah Rasulullah ﷺ dimakamkan di kamar ‘Aisyah, tempat beliau wafat, pada hari Selasa malam Rabu.


🌿 Penutup: Warisan Abadi Rasulullah ﷺ

Demikianlah akhir kehidupan makhluk termulia, Rasulullah Muhammad ﷺ
beliau datang membawa cahaya, meninggalkan petunjuk, dan mengantarkan umat manusia kepada Rabb semesta alam.

“Sungguh, telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri; berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
(QS. At-Taubah: 128)


🌸 Selesai — Akhir Sīrah Nabawiyyah
Disusun berdasarkan Ar-Raḥīq al-Makhtūm, karya Syaikh Ṣafiyyur-Raḥmān al-Mubārakfūrī.

Pemuda dalam Islam: Nasihat Rasulullahﷺ agar Tidak Lalai dengan Waktu Muda

Pemuda dalam Islam: Nasihat Rasulullah ﷺ agar Tidak Lalai dengan Waktu Muda

Masa muda adalah fase yang penuh dengan semangat, kekuatan, dan cita-cita. Namun, di saat yang sama, masa ini juga rawan terjerumus pada kelalaian dan perbuatan sia-sia. Karena itu, Islam memberikan perhatian khusus kepada pemuda, bahkan Rasulullah ﷺ banyak memberikan nasihat berharga agar para pemuda mengisi masa mudanya dengan kebaikan.


1. Masa Muda Akan Dimintai Pertanggungjawaban

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ … وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara … dan tentang masa mudanya, untuk apa ia habiskan.” (HR. at-Tirmidzī, dinyatakan hasan shahih)

Hadits ini menegaskan bahwa masa muda adalah amanah besar. Allah akan menanyakan setiap detik yang kita lalui, apakah dipakai untuk kebaikan atau disia-siakan.


2. Pemuda yang Mendapat Naungan Allah

Keistimewaan lain bagi pemuda yang taat adalah janji Allah berupa naungan di hari kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ … وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ
“Ada tujuh golongan yang Allah naungi dengan naungan-Nya pada hari yang tiada naungan selain naungan-Nya … salah satunya adalah seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim)

Betapa mulianya pemuda yang membiasakan dirinya dekat dengan ibadah, jauh dari maksiat, dan menjaga dirinya dari kelalaian.


3. Pemuda sebagai Pilar Umat

Sejarah mencatat bahwa mayoritas sahabat Nabi ﷺ yang ikut berjuang menegakkan Islam adalah para pemuda. Misalnya:

  • Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, yang masuk Islam di usia belia.
  • Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, diangkat menjadi panglima pasukan pada usia muda.
  • Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, terkenal dengan semangatnya dalam meneladani sunnah.

Mereka menunjukkan bahwa kekuatan pemuda sangat berperan dalam dakwah Islam.


4. Pelajaran bagi Pemuda Muslim

Beberapa hal penting yang bisa dijadikan nasihat untuk pemuda hari ini:

  1. Isi masa muda dengan ilmu dan ibadah. Jangan biarkan waktu habis hanya untuk hiburan dan permainan.
  2. Hindari pergaulan buruk. Teman sangat berpengaruh terhadap akhlak dan iman seorang pemuda.
  3. Perbanyak amal shalih. Shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan berdakwah sesuai kemampuan.
  4. Tetapkan visi akhirat. Ingat bahwa kehidupan dunia ini sementara, sedangkan masa depan di akhiratlah yang kekal.

Penutup

Pemuda adalah aset terbesar umat Islam. Jika mereka tumbuh dengan iman dan taqwa, maka umat ini akan kuat. Namun, jika mereka lalai, maka umat akan lemah. Karena itu, mari isi masa muda dengan ketaatan kepada Allah, agar kelak kita termasuk dalam golongan pemuda yang mendapat naungan di hari kiamat.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Āli ‘Imrān: 133)

Keutamaan Berdo’a Antara Adzan & Iqomah

🕋 Keutamaan Berdoa Antara Adzan dan Iqamah

Waktu Mustajab yang Sering Terlupakan

Dalam kehidupan sehari-hari, adzan dan iqamah bergema lima kali dalam sehari — menjadi tanda datangnya waktu shalat dan panggilan menuju keberkahan. Namun, sedikit di antara kaum Muslimin yang menyadari bahwa waktu di antara adzan dan iqamah adalah salah satu waktu yang sangat mustajab untuk berdoa.

Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk memanfaatkan waktu singkat ini untuk berdoa, karena doa yang dipanjatkan di saat itu tidak akan ditolak oleh Allah Ta’ala.


Dalil dari Hadits Shahih

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak.”

(HR. Abu Dawud no. 521, At-Tirmidzi no. 212, dinyatakan shahih oleh Al-Albani; maknanya juga dikuatkan oleh hadits-hadits dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim tentang keutamaan waktu-waktu mustajab.)

Selain itu, terdapat riwayat dalam Shahih Muslim yang menegaskan pentingnya berdoa setelah mendengar adzan, yaitu:

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya, kemudian bershalawatlah kepadaku, lalu mintalah kepada Allah al-wasilah untukku… Barang siapa memintakan al-wasilah untukku, maka halal baginya syafa’atku.”

(HR. Muslim no. 384)

Hadits ini menunjukkan bahwa setelah adzan hingga iqamah, adalah waktu yang diisi dengan dzikir, shalawat, dan doa. Dan dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa doa di antara adzan dan iqamah tidak ditolak — menunjukkan keistimewaan waktu ini sebagai waktu yang sangat mustajab.


Mengapa Waktu Ini Diberkahi?

Para ulama menjelaskan bahwa waktu antara adzan dan iqamah adalah waktu penuh keberkahan, karena:

  1. Adzan adalah panggilan menuju ibadah, dan iqamah adalah awal pelaksanaannya — di antara keduanya terdapat jeda penuh ketenangan dan kesiapan hati.
  2. Pada waktu itu, pintu-pintu rahmat Allah terbuka, dan hati seorang hamba sedang bersiap menyambut perjumpaan dengan Rabb-nya dalam shalat.
  3. Karena itu, doa yang tulus dan khusyuk di waktu tersebut lebih dekat untuk dikabulkan.

Contoh Doa yang Dianjurkan

Tidak ada doa khusus yang ditetapkan di waktu antara adzan dan iqamah, sehingga setiap doa yang baik diperbolehkan. Namun, sangat baik jika seseorang:

  • Bershalawat kepada Nabi ﷺ setelah menjawab adzan.
  • Berdoa untuk dirinya, keluarganya, dan kaum Muslimin.
  • Memohon ampunan, petunjuk, dan keberkahan.

Contohnya:

“Allahumma inni as’aluka min khairid-dunya wal-akhirah.”

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan di dunia dan di akhirat.”


Kesimpulan

Waktu antara adzan dan iqamah adalah salah satu waktu yang paling mustajab untuk berdoa.
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa doa di waktu itu tidak akan ditolak, maka hendaknya setiap Muslim tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Gunakanlah waktu itu untuk:

  • Menjawab adzan,
  • Bershalawat kepada Nabi ﷺ,
  • Dan berdoa dengan penuh keikhlasan — karena di antara panggilan adzan dan iqamah terdapat pintu doa yang terbuka lebar menuju langit.