Hijrah merupakan titik balik sejarah Islam — dari fase tertindas di Makkah menuju fase kemuliaan dan kekuatan di Madinah.
Ia bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perpindahan peradaban, sebagaimana firman Allah ﷻ:
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ
“Orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami tempatkan mereka di dunia pada tempat yang baik, dan sesungguhnya pahala akhirat lebih besar.”
— (QS. An-Naḥl: 41)
🌙 Rencana Quraisy Membunuh Rasulullah ﷺ
Setelah Bai‘at Aqabah Kedua, kaum Quraisy merasa bahwa keadaan semakin genting.
Islam kini memiliki kekuatan dan tempat perlindungan di Yatsrib.
Mereka khawatir Nabi ﷺ akan hijrah dan memimpin kekuatan baru melawan mereka.
Maka, mereka mengadakan pertemuan darurat di Dārun-Nadwah, dewan tertinggi Quraisy.
Hadir para pemuka dari setiap kabilah — di antaranya Abu Jahl, Abu Sufyān, dan lainnya.
Iblis pun hadir dalam rupa seorang lelaki tua dari Najd, lalu berkata:
“Aku datang untuk memberi saran terbaik.”
Mereka berdiskusi panjang.
Ada yang mengusulkan agar Nabi ﷺ dipenjara, ada yang mengusulkan agar diusir, tetapi Abu Jahl berkata:
“Kita ambil dari setiap kabilah satu pemuda yang gagah, lalu mereka bersama-sama menyerang Muhammad dan membunuhnya dengan satu tebasan. Maka darahnya akan terbagi di antara seluruh kabilah, sehingga Bani ‘Abdul Muththalib tidak akan sanggup memeranginya.”
Usulan itu disetujui oleh semua.
Namun Jibrīl ‘alayhis-salām segera datang mengabarkan rencana itu kepada Rasulullah ﷺ dan memerintahkan beliau untuk berhijrah.
🌌 Malam Hijrah: Tidurnya Ali di Tempat Rasulullah ﷺ
Pada malam itu, Rasulullah ﷺ memerintahkan ‘Ali bin Abi Ṭālib رضي الله عنه untuk tidur di atas tempat tidurnya dan menutupi dirinya dengan selimut hijau milik beliau, agar Quraisy mengira Nabi masih di rumah.
Beliau berkata kepada ‘Ali:
“Tidurlah di tempat tidurku dan jangan takut, karena tidak akan menimpamu sesuatu yang tidak disukai.”
‘Ali pun menaati perintah itu dengan penuh keyakinan.
Ketika malam telah larut dan para pembunuh mengepung rumah Rasulullah ﷺ, beliau keluar dengan tenang.
Beliau mengambil segenggam pasir, menaburkannya ke arah mereka sambil membaca firman Allah:
يس وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ… hingga ayat:
فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ
“… Maka Kami tutup pandangan mereka, sehingga mereka tidak dapat melihat.”
— (QS. Yāsīn: 1–9)
Mereka pun tidak menyadari bahwa Nabi ﷺ telah keluar di tengah-tengah mereka.
🛤️ Perjalanan ke Gua Tsur
Rasulullah ﷺ berangkat bersama Abu Bakr aṣ-Ṣiddīq رضي الله عنه menuju arah selatan Makkah, bukan ke utara (arah Madinah), untuk mengelabui Quraisy.
Mereka bersembunyi di Gua Tsur, di Jabal Tsur, selama tiga hari.
Abu Bakr mempersiapkan tempat dan membawa bekal.
Putrinya, Asma’ binti Abi Bakr, mengantarkan makanan dengan sembunyi-sembunyi, sementara anaknya ‘Abdullah mengumpulkan informasi dari Makkah pada malam hari.
Pada hari ketiga, para pengejar Quraisy hampir menemukan mereka.
Mereka sampai di mulut gua.
Abu Bakr berkata dengan suara bergetar:
“Wahai Rasulullah, seandainya salah satu dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya mereka akan melihat kita!”
Rasulullah ﷺ menjawab dengan penuh ketenangan:
“Lā taḥzan, innallāha ma‘anā.”
“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
— (QS. At-Taubah: 40)
Dan benar — Allah melindungi keduanya dengan mukjizat.
Laba-laba membuat sarang di pintu gua dan burung merpati bertelur di sana, sehingga para pengejar yakin bahwa tidak mungkin ada orang yang baru masuk.
🐪 Menuju Madinah
Setelah keadaan tenang, datang ‘Abdullah bin Uraiqith, seorang pemandu jalan (masih musyrik, tapi dapat dipercaya).
Ia membawa dua unta yang telah disiapkan oleh Abu Bakr.
Rasulullah ﷺ menunggangi unta bernama Al-Qaṣwā’, sedangkan Abu Bakr menunggang Al-Jad‘ā’.
Mereka menempuh perjalanan selama delapan hari melalui jalur pesisir barat, bukan jalur biasa yang dilalui orang.
Sepanjang perjalanan, Rasulullah ﷺ menampakkan akhlak dan kebijaksanaan luar biasa — menenangkan Abu Bakr, memberi petunjuk, dan mengatur strategi agar tidak terdeteksi.
🏡 Sambutan di Madinah
Tatkala berita kedatangan Rasulullah ﷺ tersebar di Madinah, penduduk Anshar keluar setiap pagi menyambut beliau di pinggiran kota.
Hingga pada hari Senin, 12 Rabi‘ul Awwal, tahun ke-1 Hijriah, mereka melihat rombongan yang datang dari jauh.
Kaum muslimin berseru dengan penuh kegembiraan:
“Telah datang Rasulullah ﷺ! Telah datang Rasulullah ﷺ!”
Anak-anak, wanita, dan para pemuda menyambut beliau dengan wajah berseri-seri.
Mereka menyanyikan:
Ṭala‘al Badru ‘Alainā
“Telah terbit bulan purnama atas kami
Dari lembah Wada‘,
Wajib bagi kami bersyukur,
Atas seruan kepada Allah.”
Rasulullah ﷺ singgah di Qubā’ selama empat hari, membangun Masjid Qubā’, masjid pertama dalam Islam.
Kemudian beliau menuju pusat kota Yatsrib.
Setiap orang Anshar memohon agar beliau singgah di rumah mereka, namun beliau bersabda:
“Biarkan unta ini berjalan, karena ia diperintah.”
Unta itu berhenti di tanah milik dua anak yatim dari Bani Najjār.
Di situlah beliau membangun Masjid Nabawi dan rumahnya.
🕌 Awal Kehidupan di Madinah
Dengan hijrah ini, Islam resmi memiliki negeri.
Kaum muslimin kini memiliki masyarakat, pemerintahan, dan kebebasan ibadah.
Hijrah bukan hanya simbol pelarian, tetapi permulaan kejayaan dakwah Islam.
Dari sinilah terbit cahaya Islam yang menyinari dunia.
Hijrah menjadi garis pemisah antara kebatilan dan kebenaran, antara kegelapan jahiliyyah dan cahaya tauhid.
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
— (QS. Al-Baqarah: 218)