Setelah melalui masa paling berat dalam hidupnya — kehilangan Abu Thalib dan Khadijah, ditolak dan dilempari batu di Thaif — datanglah hiburan dan kemuliaan dari Allah ﷻ.
Peristiwa itu adalah Isra’ dan Mi’raj, perjalanan malam Rasulullah ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian naik ke langit tertinggi hingga Sidratul Muntaha.
🌙 Permulaan Perjalanan
Suatu malam, ketika Rasulullah ﷺ berada di rumah Ummu Hani (putri Abu Thalib), datanglah malaikat Jibril عليه السلام.
Beliau membangunkan Nabi ﷺ dan membawanya keluar menuju Masjidil Haram.
Di sana, dada Rasulullah ﷺ dibelah dan dibasuh dengan air zamzam, lalu diisi dengan hikmah dan iman — sebagaimana yang telah terjadi pula saat beliau masih kecil di perkampungan Bani Sa‘d.
Setelah itu, Jibril membawa seekor hewan putih yang dinamakan Buraq — lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal, langkahnya sejauh mata memandang.
🕋 Isra’: Dari Makkah ke Baitul Maqdis
Rasulullah ﷺ menaiki Buraq dan memulai perjalanan malam dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha di Palestina.
Perjalanan ini — yang biasanya memakan waktu berhari-hari — ditempuh dalam sekejap oleh kekuasaan Allah.
Sesampainya di sana, beliau turun dan mengimami para nabi dalam salat dua rakaat — sebuah simbol bahwa beliau adalah penutup para nabi dan pemimpin mereka semua.
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
— (QS. Al-Isra: 1)
☁️ Mi’raj: Naik ke Langit
Dari Masjidil Aqsha, Rasulullah ﷺ bersama Jibril naik menembus langit dengan izin Allah.
Setiap lapisan langit memiliki penjaga dan pintu. Saat Jibril meminta izin masuk, penjaga bertanya, “Siapa bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Lalu ditanya lagi, “Apakah dia sudah diutus?” Jibril menjawab, “Ya.” Maka pintu pun dibuka, dan beliau disambut dengan penghormatan penuh.
🌤️ Langit Pertama
Rasulullah ﷺ bertemu dengan Nabi Adam عليه السلام.
Beliau melihat ruh-ruh anak Adam di sisi kanan berwajah cerah, dan di sisi kiri berwajah gelap. Ketika melihat ke kanan, Adam tersenyum, dan ketika melihat ke kiri, beliau bersedih.
Jibril berkata:
“Inilah ayahmu Adam, dan ruh-ruh anak keturunannya berada di sisinya.”
☁️ Langit Kedua
Beliau bertemu dengan Nabi Isa bin Maryam dan Nabi Yahya bin Zakariya عليهما السلام.
Keduanya menyambut dengan salam dan doa kebaikan.
🌙 Langit Ketiga
Di sini beliau bertemu Nabi Yusuf عليه السلام, yang wajahnya bercahaya seperti bulan purnama.
🌟 Langit Keempat
Beliau bertemu Nabi Idris عليه السلام, yang telah disebut Allah dalam Al-Qur’an:
وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا
“Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi.”
— (QS. Maryam: 57)
☀️ Langit Kelima
Beliau bertemu dengan Nabi Harun عليه السلام, saudara Musa.
🌈 Langit Keenam
Beliau bertemu Nabi Musa عليه السلام, yang menangis setelah Nabi Muhammad ﷺ lewat.
Ketika ditanya mengapa, Musa berkata:
“Aku menangis karena umat ini akan masuk surga lebih banyak daripada umatku.”
🌠 Langit Ketujuh
Di sini beliau bertemu Nabi Ibrahim عليه السلام, yang sedang bersandar di Baitul Ma‘mur — rumah ibadah di langit yang setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat, dan tidak pernah kembali lagi setelahnya.
Ibrahim berkata kepada Rasulullah ﷺ:
“Sampaikan salamku kepada umatmu, dan katakan kepada mereka bahwa surga itu baik tanahnya, segar airnya, dan tumbuhannya adalah Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar.”
🌳 Sidratul Muntaha dan Lauhul Mahfuz
Rasulullah ﷺ kemudian dibawa naik ke Sidratul Muntaha, tempat paling tinggi yang bahkan Jibril tidak dapat melampauinya.
Di sanalah Rasulullah ﷺ melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang tidak terlukiskan.
Daunnya seperti telinga gajah, dan buahnya seperti kendi besar.
Beliau melihat Baitul Ma‘mur, sungai-sungai surga, dan pakaian-pakaian surga yang indah.
Di sana pula, beliau menerima perintah salat lima puluh waktu sehari semalam.
Ketika turun, beliau bertemu kembali dengan Nabi Musa yang berkata:
“Umatmu tidak akan sanggup, kembalilah dan mintalah keringanan.”
Rasulullah ﷺ kembali menghadap Rabb-nya, dan Allah mengurangi jumlah salat menjadi empat puluh, lalu tiga puluh, dua puluh, sepuluh, hingga akhirnya lima waktu dalam sehari, dengan pahala lima puluh waktu.
🌌 Tanda-Tanda Kebesaran Allah
Dalam perjalanan itu, Rasulullah ﷺ juga diperlihatkan banyak hal:
- Surga dan kenikmatannya.
- Neraka dan siksaan bagi orang yang berdusta, memakan riba, berzina, dan meninggalkan salat.
- Beliau juga melihat Mālik, penjaga neraka, yang tidak pernah tersenyum.
🕋 Kembali ke Makkah
Rasulullah ﷺ kembali ke Makkah pada malam yang sama.
Keesokan harinya, beliau menceritakan peristiwa itu kepada orang-orang.
Kaum Quraisy mengejek dan menertawakan, bahkan sebagian murtad karena tidak percaya.
Namun Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه berkata tegas:
“Jika Muhammad yang mengatakannya, maka aku membenarkannya. Aku mempercayai berita dari langit datang kepadanya, maka perjalanan ini tentu lebih mudah bagiku untuk percaya.”
Sejak hari itu, Abu Bakar diberi gelar Ash-Shiddiq (Yang Membenarkan).
🌿 Pelajaran dari Isra’ dan Mi’raj
- Allah memberi kemuliaan setelah kesulitan.
Setelah Thaif dan tahun kesedihan, datanglah perjalanan mulia ini. - Salat adalah hadiah langsung dari Allah.
Ia menjadi tiang agama dan sarana hubungan langsung dengan Rabbul ‘Ālamīn. - Keimanan sejati diuji dengan hal ghaib.
Hanya hati yang yakin yang akan tunduk kepada berita dari langit.
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهَىٰ عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ
“Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril) pada kesempatan yang lain, di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal.”
— (QS. An-Najm: 13–15)