Setelah bertahun-tahun menghadapi siksaan dan pemboikotan, datanglah masa yang paling berat dalam kehidupan Rasulullah ﷺ — masa yang dikenal dengan sebutan “‘Āmul Ḥuzn” (Tahun Kesedihan).
💔 Wafatnya Abu Thalib: Perisai Duniawi yang Hilang
Tak lama setelah pemboikotan Quraisy berakhir, Abu Thalib, paman yang selama ini menjadi pelindung Rasulullah ﷺ, jatuh sakit.
Beliau sudah sangat tua dan lemah, namun kasih sayangnya kepada keponakannya tidak pernah pudar.
Rasulullah ﷺ datang menemuinya saat ajal mendekat dan berkata penuh harap:
“Wahai pamanku, ucapkanlah Lā ilāha illallāh, satu kalimat yang akan aku jadikan hujjah bagimu di sisi Allah.”
Namun di sisi Abu Thalib duduk Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah, yang segera menyela:
“Apakah engkau benci terhadap agama nenek moyangmu, wahai Abu Thalib?”
Mereka terus membujuknya hingga akhirnya Abu Thalib wafat dengan tetap berada di atas agama nenek moyangnya, ‘Abdul Muththalib.
Rasulullah ﷺ sangat berduka, tapi beliau berkata dengan lembut:
“Sungguh aku akan memohonkan ampun untukmu, selama aku tidak dilarang.”
Namun kemudian turun firman Allah:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ…
“Tidaklah pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun mereka adalah kerabat.”
— (QS. At-Taubah: 113)
Dengan wafatnya Abu Thalib, hilanglah perlindungan duniawi Rasulullah ﷺ.
Kaum Quraisy pun semakin berani menyakiti dan menghina beliau secara terbuka.
🕊️ Wafatnya Khadijah رضي الله عنها: Penopang Jiwa yang Pergi
Tak lama setelah kepergian Abu Thalib, datang pukulan yang lebih berat lagi.
Khadijah binti Khuwailid رضي الله عنها, istri tercinta, pendamping setia sejak masa kenabian pertama, juga wafat.
Selama dua puluh lima tahun, Khadijah menjadi tempat Rasulullah ﷺ mencurahkan duka dan berbagi perjuangan.
Dialah yang menenangkan beliau saat wahyu pertama turun di Gua Hira.
Dialah yang mengorbankan hartanya untuk dakwah.
Kini, rumah Rasulullah ﷺ terasa sunyi.
Beliau kehilangan dua sosok yang selama ini menjadi penopang perjuangan: Abu Thalib sebagai pelindung dari luar, dan Khadijah sebagai penenang di dalam.
Tahun itu pun dinamakan ‘Āmul Ḥuzn — Tahun Kesedihan.
🌆 Upaya Dakwah ke Thaif
Setelah kehilangan pelindung dan dukungan di Makkah, Rasulullah ﷺ memutuskan untuk mencari tempat lain yang mungkin mau menerima risalah Islam.
Beliau memilih Thaif, sebuah kota yang indah dan sejuk di kaki gunung, tempat tinggal suku Tsaqif.
Dengan ditemani oleh Zaid bin Ḥārithah رضي الله عنه, beliau menempuh perjalanan sejauh ±100 km dari Makkah dengan penuh harapan.
Setibanya di sana, beliau menemui tiga tokoh utama suku Tsaqif: ‘Abdu Yālail, Mas‘ūd, dan Ḥabīb bin ‘Amr.
Namun sambutan mereka sangat menyakitkan.
Mereka berkata dengan nada mengejek:
“Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain engkau untuk diutus?”
“Jika engkau benar seorang nabi, maka aku tidak pantas berbicara denganmu; dan jika engkau berdusta, maka aku tidak pantas mendengarkanmu.”
Rasulullah ﷺ keluar dari Thaif dengan hati hancur.
Namun bukan hanya ditolak — beliau bahkan dilempari batu oleh orang-orang dan anak kecil hingga berdarah.
Zaid berusaha melindungi beliau dengan tubuhnya sampai luka-luka.
🩸 Doa Rasulullah ﷺ di Lembah Thaif
Setelah keluar dari Thaif, Rasulullah ﷺ berhenti di sebuah kebun milik ‘Utbah dan Syaibah bin Rabi‘ah.
Di sana beliau duduk bersandar pada pohon anggur, luka-luka masih mengalir.
Beliau mengangkat tangan ke langit dan berdoa dengan kalimat yang menggetarkan sejarah:
“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya daya upayaku, dan hinanya aku di hadapan manusia.
Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah, Engkaulah Tuhanku.
Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku — kepada musuh yang akan menguasai diriku, atau kepada orang jauh yang Engkau beri kekuasaan atasku?
Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli, tetapi ampunan-Mu lebih luas bagiku.
Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menerangi segala kegelapan dan memperbaiki urusan dunia dan akhiratku, agar jangan Engkau turunkan murka-Mu kepadaku.
Bagimu segala keridhaan, hingga Engkau ridha. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu.”
Doa itu menggambarkan puncak kerendahan hati, kesabaran, dan keikhlasan Nabi ﷺ dalam berdakwah.
Beliau tidak meminta kemenangan, tetapi memohon agar Allah tidak murka padanya.
🌟 Pertolongan Allah di Thaif
Melihat keadaan itu, Allah menghibur Rasulullah ﷺ dengan mengirimkan seorang budak Nasrani bernama ‘Addās yang membawa buah anggur.
Saat Rasulullah ﷺ mengucapkan “Bismillah”, Addās terkejut — sebab kaum Arab tidak biasa menyebut nama Allah seperti itu.
Ia bertanya, “Dari mana engkau tahu nama itu?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Aku seorang nabi, dan saudaraku Yunus bin Matta juga seorang nabi.”
Addās pun langsung bersujud dan mencium tangan serta kepala beliau, lalu beriman di tempat itu juga.
🕋 Kembali ke Makkah dengan Perlindungan Ilahi
Ketika Rasulullah ﷺ hendak kembali ke Makkah, beliau khawatir tidak bisa masuk karena sudah tidak ada pelindung.
Namun Allah menolongnya melalui Mut‘im bin ‘Adiy, seorang tokoh Quraisy yang masih memiliki kehormatan tinggi.
Mut‘im memerintahkan anak-anaknya untuk mempersenjatai diri dan mengawal Rasulullah ﷺ hingga masuk Makkah dengan aman.
Rasulullah ﷺ bersyukur kepada Allah atas nikmat perlindungan itu dan mendoakan kebaikan bagi Mut‘im.
🌿 Pelajaran dari Perjalanan ke Thaif
- Ujian adalah bagian dari dakwah.
Bahkan Rasulullah ﷺ diuji dengan penolakan paling menyakitkan, namun tetap bersabar. - Keikhlasan sejati adalah ketika hati hanya peduli pada ridha Allah, bukan hasil duniawi.
- Pertolongan Allah datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Seperti Addās di kebun anggur dan Mut‘im bin ‘Adiy di Makkah.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
— (QS. Al-Insyirah: 5–6)